Kabarinaja.id – Perubahan pola kerja membuat perusahaan meninjau kembali cara menentukan kebutuhan ruang kantor. Workplace Strategy berbasis data kini digunakan untuk menghubungkan pemanfaatan ruang dengan aktivitas karyawan dan kebutuhan bisnis.
Kantor tidak lagi hanya menjadi tempat karyawan bekerja secara individual. Ruang yang tersedia harus mendukung rapat, kolaborasi, pekerjaan fokus, hingga berbagai aktivitas dengan pola kerja fleksibel.
Kebutuhan Kantor Mulai Bergeser
Perubahan tersebut ikut memengaruhi keputusan perusahaan di Jakarta. Sejumlah penyewa memilih melakukan relokasi, menyesuaikan luas ruangan, atau meningkatkan kualitas lingkungan kerja.
Keputusan itu membutuhkan perhitungan yang lebih luas daripada sekadar jumlah karyawan. Perusahaan perlu melihat pola penggunaan ruang, kebutuhan tenaga kerja, serta arah bisnis dalam jangka panjang.
Head of Project Management Rahmat Daresa Alam mengatakan pendekatan berbasis data dapat membantu organisasi menentukan strategi tempat kerja.
“Workplace Strategy berbasis data dapat membantu organisasi menjawab berbagai prioritas tersebut dengan menggabungkan wawasan mengenai kebutuhan karyawan, data okupansi, dan kebutuhan bisnis,” kata Rahmat dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Rahmat, pendekatan tersebut dapat digunakan ketika perusahaan menghadapi sejumlah keputusan terkait properti. Kondisinya mencakup relokasi, perpanjangan sewa, konsolidasi, renovasi, hingga ekspansi tenaga kerja.
Data Menjadi Dasar Penataan Ruang
Workplace Strategy tidak berhenti pada penghitungan jumlah pekerja dan luas area kantor. Evaluasi juga mencakup karakteristik tenaga kerja, pola aktivitas, tujuan organisasi, serta tingkat pemakaian ruang secara aktual.
Informasi tersebut kemudian dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi untuk perencanaan tempat kerja. Hasilnya bisa mencakup panduan desain, kebutuhan ruang, hingga kerangka implementasi.
Data okupansi menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan perusahaan. Tingkat penggunaan area kerja membantu menentukan apakah kapasitas ruang yang tersedia sudah sesuai dengan aktivitas karyawan.
Ruang Multifungsi Jadi Pertimbangan
Kebutuhan aktivitas juga memengaruhi jenis ruang yang disediakan perusahaan. Area kolaborasi, ruang tenang, dan ruang acara dapat dirancang berdasarkan pola penggunaan yang terlihat dari data.
Pendekatan ini membuka peluang untuk mengurangi ruang yang hanya memiliki satu fungsi. Sebagian area dapat dirancang lebih fleksibel agar mampu digunakan untuk beberapa aktivitas berbeda sepanjang pekan.
Bagi pengelola properti korporasi, perubahan tersebut menggeser pertanyaan utama dalam menentukan kantor. Fokusnya bukan lagi sekadar menghitung berapa meter persegi yang harus disewa.
Perusahaan juga perlu mengetahui apakah ruang tersebut benar-benar dimanfaatkan secara efektif. Kemampuan ruang dalam mengikuti perubahan pola kerja serta mendukung kebutuhan organisasi menjadi bagian dari pertimbangan.
Penggabungan data okupansi, pola kerja, dan kebutuhan operasional akhirnya dapat menjadi dasar pengambilan keputusan properti. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menyesuaikan ruang kantor dengan perkembangan organisasi sambil tetap mempertimbangkan efisiensi dan kebutuhan karyawan. (Wd/*)










