Kalsel Nihil Hotspot, Karhutla Kini Dipantau Ketat di Kalbar

Data SiPongi mencatat 395 hotspot high confidence di Indonesia hingga 9 September 2026. Kalbar dan Kalteng menjadi wilayah dengan titik terbanyak.

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026 - 16:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kalsel Nihil Hotspot, Karhutla Kini Dipantau Ketat di Kalbar (Foto: Kemenhut/medcom)

Kalsel Nihil Hotspot, Karhutla Kini Dipantau Ketat di Kalbar (Foto: Kemenhut/medcom)

Kabarinaja.id – Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat perkembangan positif dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga pemantauan terbaru, tidak ditemukan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di provinsi tersebut.

Kondisi berbeda terlihat di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Dua provinsi itu masih mencatat hotspot cukup banyak sehingga menjadi perhatian utama dalam operasi pengendalian karhutla.

Kalbar dan Kalteng Paling Banyak Hotspot

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang berasal dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 395 hotspot high confidence di Indonesia.

Data tersebut diperbarui hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 21.04 WIB. Jumlahnya turun dua titik dibandingkan pemantauan pada hari sebelumnya.

Kalbar berada di posisi teratas di antara enam provinsi yang masuk wilayah prioritas pengendalian. Provinsi tersebut mencatat 134 hotspot, disusul Kalteng dengan 81 titik.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Kalimantan Barat: 134 titik
  • Kalimantan Tengah: 81 titik
  • Sumatera Selatan: 35 titik
  • Riau: 15 titik
  • Jambi: 4 titik
  • Kalimantan Selatan: 0 titik

Besarnya jumlah hotspot di Kalbar dan Kalteng membuat aktivitas pengendalian diarahkan lebih intensif ke kedua wilayah tersebut. Petugas menjalankan patroli, pengecekan lapangan, pemadaman darat, serta operasi udara sesuai kondisi di masing-masing lokasi.

Kalsel Menunjukkan Perkembangan Positif

Nihilnya hotspot high confidence di Kalsel menjadi perkembangan yang cukup baik dalam pemantauan terakhir.

Sumatera Selatan juga menunjukkan penurunan jumlah hotspot dibandingkan hari sebelumnya. Kendati demikian, kondisi tersebut belum membuat pengawasan dihentikan karena situasi karhutla dapat berubah dalam waktu singkat.

Perubahan biasanya berkaitan dengan kondisi cuaca, kelembapan, angin, curah hujan, serta keadaan bahan bakar di area rawan kebakaran.

Baca Juga :  Gambut Jadi Tantangan, Ini Wilayah Karhutla Tersulit di Kalbar

Hotspot Perlu Diverifikasi di Lapangan

Jumlah hotspot yang terdeteksi satelit tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran. Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang tertangkap sensor satelit.

Satu peristiwa kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu titik deteksi. Karena itu, petugas tetap membutuhkan groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

Pengendalian melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai unsur terkait.

Metode penanganannya mencakup pengecekan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan untuk menghentikan pergerakan api, mopping up, serta proses pendinginan area yang telah terbakar.

Langkah tersebut menjadi semakin penting pada wilayah gambut. Api dapat meninggalkan bara di bawah permukaan tanah sehingga pendinginan perlu dilakukan secara menyeluruh meski api tidak lagi terlihat dari permukaan.

Puluhan Armada Udara Disiagakan

Pemerintah juga memperkuat pengendalian melalui operasi udara. Sebanyak 53 armada disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas.

Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Dari total armada itu, sebanyak 19 unit menjalankan patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 armada lainnya dipergunakan untuk operasi water bombing.

Penempatan armada mengikuti perkembangan kondisi lapangan. Jumlah hotspot, hasil verifikasi petugas, kondisi api, serta faktor meteorologis menjadi pertimbangan dalam menentukan wilayah operasi.

OMC juga tetap disiapkan untuk memanfaatkan potensi awan yang memungkinkan terbentuknya hujan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan pembasahan di wilayah yang membutuhkan.

Asap Masih Memengaruhi Jarak Pandang

Penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api. Sebaran asap dan kualitas udara juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi aktivitas masyarakat.

Baca Juga :  War Ticket HUT ke-81 RI Resmi Dibuka, Ini Cara Daftar dan Syarat Pesertanya

Pemantauan kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 menunjukkan kondisi yang berbeda-beda di sejumlah wilayah Indonesia. Sebagian besar area berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi beberapa wilayah Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Sejumlah lokasi bahkan terpantau dalam kategori berbahaya. Kondisi udara tidak sehat juga masih ditemukan di beberapa wilayah Sumatera.

BMKG pada Rabu, 9 September 2026, turut mencatat adanya pengaruh asap terhadap jarak pandang di sejumlah daerah prioritas.

Sekitar pukul 12.47 WIB, kondisi jarak pandang yang tercatat antara lain:

  • Pontianak: sekitar 2 kilometer, berasap
  • Palangka Raya: sekitar 4,5 kilometer, berasap
  • Palembang: sekitar 5 kilometer, berasap
  • Pekanbaru: sekitar 4 kilometer, berasap
  • Jambi: sekitar 3 kilometer, berasap
  • Banjarmasin: sekitar 9 kilometer, cerah berawan

Pontianak menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena Kalbar mencatat hotspot high confidence terbanyak dibandingkan lima provinsi prioritas lainnya.

Namun, kondisi jarak pandang tidak bersifat tetap. Konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan titik kebakaran dapat membuat situasinya berubah.

Pemantauan Terus Dilakukan

Kementerian Kehutanan bersama instansi dan unsur terkait masih memantau sejumlah indikator secara bersamaan. Data hotspot, kondisi api, kualitas udara, arah sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang menjadi bahan evaluasi untuk menentukan prioritas operasi.

Masyarakat juga diminta tidak menggunakan metode pembakaran ketika membuka maupun membersihkan lahan. Jika menemukan asap, titik api, atau tanda kebakaran, laporan secepatnya diperlukan agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api meluas. (Wd/*)

Berita Terkait

Asap Mengganggu Komunikasi, Relawan Karhutla Banjarmasin Butuh Peralatan Tambahan
Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya
Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan Lima Program untuk Santri
Hari Santri 2026, Prabowo Soroti Peran Pesantren bagi Bangsa
Ingin Mengetahui Nilai Tanah? Begini Cara Mengeceknya Lewat BHUMI ATR/BPN
Cara Download Kartu Nikah Digital melalui Simkah Kemenag
Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital
Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:28 WIB

Asap Mengganggu Komunikasi, Relawan Karhutla Banjarmasin Butuh Peralatan Tambahan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan Lima Program untuk Santri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Hari Santri 2026, Prabowo Soroti Peran Pesantren bagi Bangsa

Senin, 19 Oktober 2026 - 07:04 WIB

Ingin Mengetahui Nilai Tanah? Begini Cara Mengeceknya Lewat BHUMI ATR/BPN

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB