Ribuan Naskah Nusantara Sudah Digital, Minat Baca Masih Jadi Tantangan

Perpusnas mencatat ribuan naskah Nusantara telah dialihkan ke format digital, namun penguatan literasi membutuhkan pemanfaatan koleksi secara lebih luas.

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Foto: mpr.go.id)

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Foto: mpr.go.id)

Kabarinaja.id – Upaya digitalisasi naskah Nusantara kembali mendapat perhatian sebagai bagian dari penguatan literasi masyarakat. Akses terhadap koleksi bersejarah dinilai perlu diperluas agar pengetahuan tidak berhenti di ruang penyimpanan.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan perpustakaan perlu memaksimalkan sumber daya yang tersedia. Menurut dia, langkah tersebut penting untuk menjawab tantangan literasi yang masih dihadapi masyarakat.

“Di tengah tantangan literasi yang masih rendah, pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang ada harus segera direalisasikan. Potensi yang dimiliki Perpustakaan Nasional harus mampu mendorong minat baca masyarakat,” ujar Lestari dalam keterangan tertulis, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Ribuan Naskah Belum Tersentuh Digitalisasi

Data Perpustakaan Nasional menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara jumlah koleksi dan naskah yang sudah terdigitalisasi.

Hingga akhir 2024, Perpusnas mencatat sebanyak 143.259 koleksi naskah Nusantara. Dari jumlah tersebut, baru 7.987 naskah yang berhasil dialihkan ke bentuk digital.

Kondisi tersebut menunjukkan ruang pengembangan digitalisasi masih sangat besar. Koleksi yang telah tersedia secara digital juga perlu dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan peningkatan akses pengetahuan.

Lestari mendorong agar proses tersebut tidak berhenti pada pemindaian atau penyimpanan arsip. Menurutnya, masyarakat harus mendapatkan akses yang lebih luas terhadap hasil digitalisasi tersebut.

“Naskah yang sudah didigitalisasi jangan hanya disimpan. Pemanfaatan secara maksimal harus segera direalisasikan,” kata Lestari.

Indeks Literasi Masih Menghadapi Tantangan

Dorongan memperluas akses bahan bacaan juga berkaitan dengan kondisi literasi masyarakat. Data terbaru Perpusnas per Maret 2026 menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat atau IPLM nasional berada di angka 40,6.

Baca Juga :  Rekam Wajah Orang di Tempat Umum Bisa Berujung Hukum?

Angka tersebut masih masuk kategori rendah. Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca tercatat mencapai 54,80 dan berada dalam kategori sedang.

Bagi Lestari, angka tersebut menjadi dasar perlunya langkah yang lebih luas untuk meningkatkan budaya membaca. Digitalisasi dapat menjadi salah satu sarana untuk membuat bahan pengetahuan lebih mudah dijangkau.

Akses digital juga membuka peluang bagi masyarakat yang tidak dapat mendatangi perpustakaan secara langsung. Koleksi sejarah dan budaya Nusantara dapat diperkenalkan kepada pembaca melalui perangkat yang digunakan sehari-hari.

Perpustakaan Dituntut Mengikuti Perubahan Teknologi

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia Joko Santoso sebelumnya menilai perkembangan teknologi informasi turut mengubah kebutuhan masyarakat terhadap perpustakaan.

Pernyataan itu disampaikan Joko pada Rabu, 19 Agustus 2026. Ia menilai perpustakaan perlu beradaptasi agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat menghimpun koleksi.

Perubahan tersebut mencakup perluasan akses terhadap berbagai sumber informasi dan pengetahuan. Bahan bacaan digital menjadi salah satu bagian yang semakin relevan dengan pola konsumsi informasi masyarakat saat ini.

Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan dapat berperan lebih luas dalam mendukung proses pembelajaran. Koleksi yang sebelumnya sulit dijangkau juga memiliki peluang untuk dikenal oleh pembaca dari berbagai wilayah.

Kolaborasi Dibutuhkan untuk Mempercepat Digitalisasi

Lestari juga menyoroti keterbatasan anggaran yang dapat memengaruhi pengembangan program literasi. Karena itu, ia mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam memperluas akses terhadap bahan bacaan.

Pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi. Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada program digitalisasi, penguatan komunitas literasi, hingga peningkatan akses buku.

Baca Juga :  Waspada Gelombang Tinggi 4 Meter, BMKG Ingatkan Batas Aman Pelayaran

“Sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan agar berbagai program peningkatan literasi masyarakat tetap dapat berjalan,” ujar Lestari.

Penguatan peran pemerintah daerah juga dinilai penting. Selain itu, pegiat literasi dapat dilibatkan dalam memperkenalkan koleksi digital kepada masyarakat di berbagai daerah.

Lestari turut mendorong kebijakan fiskal yang mendukung ekosistem literasi. Salah satu gagasannya ialah pengurangan pajak buku serta bahan baku kertas.

Naskah Kuno Menjadi Bagian dari Literasi Masa Kini

Naskah Nusantara tidak hanya menyimpan informasi sejarah. Koleksi tersebut juga merekam pengetahuan, budaya, bahasa, dan pemikiran masyarakat pada masa lalu.

Digitalisasi dapat membantu menjaga akses terhadap warisan tersebut ketika kondisi fisik naskah semakin rentan. Pada saat yang sama, format digital memungkinkan bahan tersebut digunakan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian.

Karena itu, percepatan digitalisasi perlu berjalan bersama strategi pemanfaatan koleksi. Masyarakat bukan hanya membutuhkan keberadaan arsip digital, tetapi juga akses dan sarana untuk mengenalnya.

“Merawat naskah berarti merawat akal budi bangsa,” tutur Lestari.

Menurut dia, dukungan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan literasi serta daya saing.

Penguatan akses terhadap naskah Nusantara pada akhirnya bukan sekadar agenda teknologi. Langkah tersebut berkaitan dengan upaya menjaga warisan pengetahuan sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk belajar dari sumber-sumber yang dimiliki bangsa. (Wd/*)

Berita Terkait

Dari Kampus hingga OTT KPK, Ini Rekam Jejak Karier Akhmad Sodiq
PPPK Paruh Waktu Guru Ditargetkan Penuh Waktu 2027
1.487 Hotspot Karhutla Terdeteksi di Kalimantan, Kalteng Terbanyak
Lulusan S1 Makin Sulit Cari Kerja, Ini Jurusannya
Nindya Eltsani Fawwaz, Pelajar Sungai Penuh Bawa Merah Putih ke Monas
Rekam Wajah Orang di Tempat Umum Bisa Berujung Hukum?
Danantara CX100 Dibuka, Ini Dampaknya bagi Pelanggan BUMN
Mengapa Soekarno Memilih Tanggal 17 Agustus untuk Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:05 WIB

Ribuan Naskah Nusantara Sudah Digital, Minat Baca Masih Jadi Tantangan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Dari Kampus hingga OTT KPK, Ini Rekam Jejak Karier Akhmad Sodiq

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:05 WIB

PPPK Paruh Waktu Guru Ditargetkan Penuh Waktu 2027

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:02 WIB

1.487 Hotspot Karhutla Terdeteksi di Kalimantan, Kalteng Terbanyak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:05 WIB

Lulusan S1 Makin Sulit Cari Kerja, Ini Jurusannya

Berita Terbaru

Game Gacha Android Terbaru Agustus 2026

Game

Game Gacha Android Terbaru Agustus 2026

Minggu, 23 Agu 2026 - 10:08 WIB

Cryo Traveler Build Terbaik, Senjata dan Artefak Pilihan (Foto: duniagames)

Game

Cryo Traveler Build Terbaik, Senjata dan Artefak Pilihan

Minggu, 23 Agu 2026 - 09:06 WIB

Border Stardom ML: Cara Dapat dan Nilai Akun

Game

Border Stardom ML: Cara Dapat dan Nilai Akun

Minggu, 23 Agu 2026 - 08:03 WIB

Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Pasien Stroke (Foto:  bbc.co.uk)

Internasional

Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Pasien Stroke

Sabtu, 22 Agu 2026 - 18:06 WIB