Modus Baru Hacker yang Gunakan AI untuk Serangan Siber

pavicon

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.idPemanfaatan artificial intelligence (AI) kini semakin meluas, termasuk ke ranah kejahatan siber. Google mengungkap adanya pola baru yang menunjukkan hacker mulai memakai teknologi AI generatif untuk mencari celah keamanan dan menyusun serangan digital yang lebih sulit di deteksi.

Temuan tersebut di ungkap oleh Google Threat Intelligence Group (GTIG), tim riset keamanan siber milik Google. Dalam laporan terbarunya, mereka menemukan indikasi penggunaan AI dalam pengembangan eksploitasi zero-day, yakni metode serangan yang memanfaatkan celah keamanan sebelum di ketahui pengembang perangkat lunak.

Serangan itu di laporkan menyasar sebuah platform administrasi sistem berbasis web open-source yang cukup populer. Google memang tidak menyebut nama software yang menjadi target, namun mereka memastikan serangan berhasil di cegah sebelum meluas ke banyak korban.

Hacker Di duga Gunakan AI untuk Susun Kode Serangan

GTIG mengungkap bahwa para pelaku di duga memanfaatkan large language model (LLM) untuk membantu menyusun kode eksploitasi berbasis Python. Kode tersebut di rancang agar mampu melewati sistem autentikasi dua faktor atau 2FA yang selama ini di anggap sebagai lapisan keamanan tambahan.

Bila serangan berhasil, hacker berpotensi mengambil alih akses perangkat korban hingga mencuri berbagai data penting di dalam sistem.

Google menilai dugaan penggunaan AI terlihat cukup jelas dari pola penulisan kode yang sangat terstruktur. Peneliti menemukan adanya docstring edukatif, format pemrograman yang rapi, hingga pola penulisan yang identik dengan hasil generasi AI modern.

Baca Juga :  Kode Morse Bobol AI Grok, Hacker Indonesia Diduga Gasak Kripto Rp 3,4 Miliar

Tak hanya itu, peneliti juga menemukan skor kerentanan CVSS palsu yang di duga muncul akibat “halusinasi” AI. Kondisi ini terjadi ketika model AI menghasilkan informasi yang terlihat valid, padahal sebenarnya keliru atau tidak akurat.

AI Dinilai Lebih Cepat Temukan Celah Keamanan

Jenis kerentanan yang di pakai dalam serangan ini juga tergolong tidak biasa. Google menyebut bug yang di manfaatkan termasuk kategori logika semantik tingkat tinggi, yakni celah yang lebih rumit di banding bug teknis umum.

AI di anggap mampu mengenali pola-pola seperti ini lebih cepat ketimbang metode tradisional seperti fuzzing maupun static analysis yang biasa di gunakan peneliti keamanan siber.

Google sendiri tidak mengungkap model AI apa yang di pakai para hacker. Meski begitu, perusahaan memastikan model AI miliknya, Gemini, tidak terlibat dalam pengembangan eksploitasi tersebut.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan besar dalam lanskap keamanan digital global. Jika sebelumnya hacker lebih banyak mengandalkan kemampuan manual dan skrip sederhana, kini AI mulai di jadikan alat bantu untuk mempercepat proses pencarian kerentanan sekaligus menyusun serangan otomatis.

Baca Juga :  Meta Kehilangan 20 Juta Akun Aktif, Pengguna Facebook dan WhatsApp Turun

Para pakar keamanan siber menilai tren ini dapat menjadi ancaman serius dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, AI mampu membantu pelaku menghasilkan kode berbahaya dalam waktu singkat dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.

Kelompok Hacker Dunia Mulai Andalkan AI

Dalam laporan yang sama, Google juga menyoroti sejumlah kelompok hacker yang di kaitkan dengan China, Korea Utara, dan Rusia mulai aktif memanfaatkan AI dalam operasi siber mereka.

Beberapa grup yang di sebut di antaranya APT27, APT45, UNC2814, UNC5673, dan UNC6201. Kelompok tersebut di duga memakai AI untuk membantu pencarian kerentanan, pengembangan malware, hingga menyamarkan kode agar lebih sulit di lacak sistem keamanan.

AI juga mulai di manfaatkan untuk propaganda digital dan rekayasa sosial. Google mencontohkan operasi propaganda Rusia bernama “Overload” yang memakai teknologi kloning suara AI untuk membuat video palsu bertema anti-Ukraina.

Di sisi lain, Google turut menemukan malware Android bernama “PromptSpy” yang memanfaatkan API Gemini guna menjalankan interaksi otomatis pada perangkat korban.

Meningkatnya penggunaan AI dalam dunia kejahatan siber membuat perusahaan teknologi dan pengembang keamanan harus bergerak lebih cepat. Penguatan sistem keamanan, pembaruan software secara rutin, serta peningkatan literasi digital pengguna di nilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko serangan di masa mendatang.(Tim)

Berita Terkait

Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Alami Kerugian, Ini Jumlahnya
Meta Kehilangan 20 Juta Akun Aktif, Pengguna Facebook dan WhatsApp Turun
ChatGPT Dipakai 800 Juta Orang, OpenAI Ungkap Kebiasaan Pengguna AI
Lowongan Kerja Repetitif Anjlok 13%, Ini 6 Skill Utama Penyelamat Karir di Era AI
Nintendo Switch 2 Rekor Laba 424 Miliar Yen di Tengah Tekanan Rantai Pasok
Janji Sam Altman di Tengah Badai PHK, AI Sebagai Penguat, Bukan Pengganti Manusia
Hanwha Life Luncurkan AI Financial Advisor, Perkuat Penetrasi Asuransi di Indonesia
Kode Morse Bobol AI Grok, Hacker Indonesia Diduga Gasak Kripto Rp 3,4 Miliar
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 16:04 WIB

Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Alami Kerugian, Ini Jumlahnya

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:03 WIB

Modus Baru Hacker yang Gunakan AI untuk Serangan Siber

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:08 WIB

ChatGPT Dipakai 800 Juta Orang, OpenAI Ungkap Kebiasaan Pengguna AI

Senin, 11 Mei 2026 - 08:05 WIB

Lowongan Kerja Repetitif Anjlok 13%, Ini 6 Skill Utama Penyelamat Karir di Era AI

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:03 WIB

Nintendo Switch 2 Rekor Laba 424 Miliar Yen di Tengah Tekanan Rantai Pasok

Berita Terbaru

Bisnis

Harga Emas Antam Turun Rp40 Ribu, Cek Rincian Terbarunya

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:03 WIB

Otomotif

Honda BeAT NeoX 2026, Desain Makin Futuristik dan Irit BBM

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:04 WIB