Kabarinaja.id – Danantara Indonesia Trust memasuki tahun kedua dengan memperluas program sosial di bidang pendidikan, kesehatan, serta akses air bersih dan sanitasi. Tiga inisiatif yang disiapkan mencakup beasiswa bagi 800 mahasiswa, peningkatan layanan air bersih di 156 desa, dan penguatan tenaga kesehatan di wilayah yang membutuhkan.
Yayasan filantropi independen dari Danantara Indonesia tersebut mulai mengembangkan kolaborasi bersama pemerintah, perguruan tinggi, organisasi pembangunan, lembaga filantropi, masyarakat sipil, dan sektor swasta. Setelah tahun pertama difokuskan pada pembangunan fondasi, pelaksanaan program kini diarahkan pada hasil yang terukur dan berkelanjutan.
Tiga Program Sosial Danantara Memasuki Tahap Pelaksanaan
CEO Danantara Indonesia sekaligus Pembina Danantara Indonesia Trust, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa program sosial merupakan bagian dari upaya menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Dalam acara peringatan satu tahun Danantara Indonesia Trust di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (15/10), Rosan menjelaskan bahwa pengelolaan program dilakukan dengan memperhatikan sasaran, pengukuran hasil, dan tata kelola.
Ia menekankan pentingnya investasi sosial yang mendukung kualitas pendidikan generasi muda, jangkauan layanan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Memasuki tahun kedua, Danantara Indonesia Trust menetapkan tiga program utama, yaitu Asa Nusantara, Air Setara, dan Bakti Sehat Nusantara. Ketiganya memiliki sasaran berbeda, tetapi diarahkan untuk memperluas akses terhadap layanan penting bagi masyarakat.
Asa Nusantara Berikan Beasiswa kepada 800 Mahasiswa
Program Asa Nusantara menyediakan dukungan pendidikan bagi 800 mahasiswa program sarjana (S1) dan pendidikan vokasi. Bidang studi yang menjadi sasaran meliputi sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), serta ilmu kesehatan.
Pelaksanaan program melibatkan empat perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin.
Prioritas penerima diberikan kepada mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kawasan perdesaan, serta daerah terdampak bencana. Mahasiswa yang menjadi generasi pertama di keluarganya untuk menempuh pendidikan tinggi dan penyandang disabilitas juga termasuk kelompok prioritas.
Bantuan yang disediakan meliputi biaya kuliah, biaya hidup, serta pengembangan kapasitas penerima. Program ini dirancang berlangsung selama empat tahun hingga 2030.
Dukungan tersebut diharapkan membantu mahasiswa menghadapi hambatan ekonomi selama pendidikan. Selain mempertahankan keberlanjutan studi, pengembangan kapasitas menjadi bagian dari upaya mempersiapkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan.
Air Setara Sasar 156 Desa di Nusa Tenggara Timur
Di bidang akses air bersih, Danantara Indonesia Trust menjalankan program Air Setara bersama Plan Indonesia. Inisiatif ini berfokus pada penyediaan air bersih dan sanitasi yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Program tersebut menjangkau 156 desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Manggarai, dan Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasaran penerimanya sekitar 230.000 orang atau 60.000 rumah tangga.
Cakupan program juga meliputi 86.700 siswa di 867 sekolah serta 79 fasilitas kesehatan. Dengan jangkauan tersebut, intervensi tidak hanya ditujukan kepada rumah tangga, tetapi juga lingkungan pendidikan dan pelayanan medis.
Plan International turut memberikan dukungan terhadap program ini. Sementara itu, Vitamin Angels menyediakan dukungan di bidang kesehatan dan nutrisi selama empat tahun.
Akses air bersih dan sanitasi berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ketersediaan fasilitas yang memadai di rumah, sekolah, dan pusat pelayanan kesehatan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kualitas hidup.
Bakti Sehat Nusantara Perkuat Tenaga Medis di Daerah
Program ketiga, Bakti Sehat Nusantara, dijalankan bersama Kementerian Kesehatan untuk memperkuat ketersediaan tenaga medis dan tenaga kesehatan di wilayah prioritas.
Program ini mencakup perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan, pendidikan, peningkatan kompetensi, serta penempatan dan upaya mempertahankan tenaga kesehatan di daerah yang membutuhkan.
Pada tahap awal, dukungan biaya pendidikan diberikan kepada 1.343 tenaga medis dan tenaga kesehatan. Jumlah tersebut terdiri atas 358 penerima pada 2026 dan 985 penerima pada 2027.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para penerima akan ditempatkan di 70 puskesmas, 131 rumah sakit daerah, dan 25 rumah sakit vertikal.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dukungan Danantara Indonesia Trust juga akan membantu mempercepat program vaksinasi Hexavalen. Ia turut menyoroti kebutuhan tenaga dokter spesialis untuk menangani penyakit dengan angka kematian tinggi.
Menurut Budi, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala dalam mempercepat program vaksinasi. Ia menyebut pemerintah sebelumnya memperkirakan percepatan vaksinasi terkait pencegahan kanker serviks dapat membutuhkan waktu hingga 15 tahun.
Dengan dukungan tambahan, pemerintah berharap periode tersebut bisa dipangkas menjadi 10 tahun, bahkan lima tahun.
“Dengan adanya bantuan dari Danantara Trust ini, kita pengin percepat, siapa tahu bisa 10 tahun sampai 5 tahun. Bayangkan 30.000 per tahun kita bisa selamatkan,” ujarnya.
Budi menyebut kematian akibat kanker serviks pada perempuan Indonesia mendekati 30.000 kasus per tahun. Angka tersebut menjadi alasan pentingnya upaya pencegahan dan perluasan akses vaksinasi.
Beasiswa Dokter Spesialis Diarahkan ke Wilayah Prioritas
Selain vaksinasi, pemerintah menaruh perhatian pada pemerataan dokter spesialis, terutama untuk menangani penyakit kardiovaskular dan stroke.
Budi menyebut kebutuhan tenaga spesialis masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, meskipun pemerintah telah menyalurkan peralatan medis.
“Contohnya stroke (kasus) meninggal 350 ribu setahun, ya, jantung (kasus meninggal) 300 ribu per tahun. Alatnya sudah kita bagi, tapi dokternya enggak ada,” kata Budi.
Melalui skema beasiswa, penerima akan menjalani pendidikan dokter spesialis selama tiga hingga empat tahun. Biaya pendidikan dan biaya hidup ditanggung penuh oleh Danantara Indonesia Trust.
Setelah lulus, penerima diwajibkan kembali bertugas di daerah yang membutuhkan tenaga spesialis. Budi mencontohkan wilayah Papua Pegunungan dan Nias sebagai daerah yang memerlukan dukungan tenaga medis.
“Jadi selama 3 tahun, 4 tahun mereka dididik, mereka dibiayai penuh oleh Danantara dan kita bilang, kalau pulang harus kembali ke Papua Pegunungan atau Nias menyelamatkan nyawa di sana,” ujarnya.
Skema tersebut menghubungkan dukungan pendidikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah. Keberhasilannya akan bergantung pada pelaksanaan pendidikan, penempatan lulusan, dan keberlanjutan tenaga medis setelah mereka kembali bertugas.
Danantara Perkuat Kolaborasi Filantropi
Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak, mengatakan bahwa tahun kedua diarahkan untuk memperkuat fondasi yang telah dibangun sejak awal pembentukan yayasan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap kolaborasi tidak berhenti pada satu program, tetapi turut membuka ruang bagi dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” kata Nuraini.
Ke depan, Danantara Indonesia Trust berencana memperkuat perannya sebagai platform filantropi katalitik. Model ini mempertemukan berbagai pihak agar sumber daya dan keahlian yang tersedia dapat mendukung penyelesaian persoalan sosial.
Pemerintah, lembaga filantropi, mitra pembangunan, sektor swasta, masyarakat sipil, dan institusi pendidikan menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi tersebut.
Melalui tiga program yang dijalankan, Danantara Indonesia Trust menempatkan pendidikan, kesehatan, serta air bersih dan sanitasi sebagai fokus intervensi sosial. Dampak jangka panjangnya akan ditentukan oleh ketercapaian sasaran, kesinambungan pendanaan, dan efektivitas pelaksanaan di wilayah penerima manfaat. (Wd/*)










