Kabarinaja.id – Monster Hunter Outlanders membawa formula berburu monster ke perangkat mobile dengan pendekatan yang lebih cepat dan mudah diakses. Game ini dikembangkan TiMi Studio bersama Capcom dan diterbitkan Garena untuk Indonesia serta Asia Tenggara.
Saat ini, Monster Hunter Outlanders masih menjalani Closed Beta Test ketiga dengan jadwal yang belum ditentukan. Sementara tanggal peluncuran global belum diumumkan secara resmi, rumor sebelumnya menyebut game tersebut berpotensi hadir pada Desember 2026.
Monster Hunter Outlanders Bukan Sekadar Port ke Mobile
Pengalaman bermain Monster Hunter Outlanders menunjukkan bahwa game ini tidak sekadar memindahkan formula seri konsol ke layar smartphone. TiMi Studio mengubah sejumlah elemen permainan agar lebih sesuai dengan karakteristik action RPG mobile.
Pemain tetap akan menemukan aktivitas berburu, mengumpulkan material, crafting, hingga eksplorasi dunia terbuka. Namun, sistem kontrol dan pertarungannya dibuat lebih cepat sehingga pemain baru dapat memahami mekanismenya dengan relatif mudah.
Dari sisi konsep, pendekatan tersebut mengingatkan pada sejumlah action RPG mobile modern. Dunia permainan tetap menawarkan area luas untuk dijelajahi, sementara berbagai aktivitas tersedia di luar pertempuran utama.
Bagi pemain veteran Monster Hunter, perubahan tersebut mungkin membutuhkan waktu untuk dibiasakan. Kontrol touchscreen memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan penggunaan controller pada konsol atau handheld.
Untuk sementara, dukungan gamepad Bluetooth juga belum tersedia. TiMi Studio pun belum menyediakan client khusus PC ketika preview ini dibuat.
Berburu Bersama Tim dan Adventurer
Sistem multiplayer tetap menjadi salah satu bagian penting dalam Monster Hunter Outlanders. Pemain dapat membentuk tim berisi maksimal empat orang untuk menghadapi monster bersama.
Jika anggota tim tidak tersedia, sistem dapat menghadirkan karakter yang dikendalikan kecerdasan buatan. Fitur ini membuat pemain tetap bisa menjalankan perburuan tanpa harus selalu menunggu teman atau matchmaking.
Menariknya, pendamping dalam game tidak terbatas pada NPC biasa. Monster Hunter Outlanders memperkenalkan Adventurer yang bisa diperoleh melalui sistem gacha dan dimainkan secara langsung.
Setiap Adventurer mempunyai gaya bertarung serta karakteristik tersendiri. Desain mereka juga mengambil inspirasi dari monster tertentu yang terdapat dalam semesta Monster Hunter.
Pyro, misalnya, menggunakan Great Sword dengan desain yang terinspirasi Anjanath. Karakternya tampil agresif dengan perlengkapan berwarna merah dan gaya bertarung yang mengandalkan serangan kuat serta super armor.
Ada pula Raya yang menggunakan Dual Blades dengan desain yang mengambil unsur Kulu-Ya-Ku. Kemampuan ultimatenya dapat menjebak monster sekaligus memberikan efek debuff kepada target.
Arena Membuka Potensi Kompetitif
Elemen kompetitif menjadi salah satu fitur yang berpotensi memperluas umur permainan. Komunitas Monster Hunter sendiri sudah mengenal speedrun sebagai bentuk kompetisi berburu dengan waktu tercepat.
Monster Hunter Outlanders membawa konsep tersebut melalui mode Arena. Mode ini menempatkan pemain dalam quest dengan aturan dan perlengkapan tertentu sehingga kemampuan bermain menjadi faktor penting.
Fitur Guild vs Guild juga menjadi tambahan yang cukup berbeda. Sistem tersebut memungkinkan komunitas membentuk kelompok dan berkompetisi untuk mencapai pencapaian tertentu.
Jika nantinya dilengkapi peringkat, sistem musim, dan hadiah yang menarik, Arena serta Guild vs Guild berpeluang menjadi fondasi komunitas kompetitif. Namun, sejauh ini perkembangan ekosistem esports game tersebut masih perlu dilihat setelah peluncuran resminya.
Dunia Baru dengan Monster dan Karakter Orisinal
Selain mengadaptasi elemen khas seri sebelumnya, Monster Hunter Outlanders mencoba memperluas dunia permainan melalui wilayah bernama Aesoland. Area tersebut menjadi tempat pemain menjalankan berbagai aktivitas eksplorasi dan perburuan.
Game ini juga menghadirkan karakter baru seperti Rutaco dan Trillin. Kehadiran karakter tersebut memberikan identitas tersendiri bagi dunia yang dibangun khusus untuk versi mobile.
Tidak berhenti pada karakter, TiMi Studio turut memperkenalkan monster orisinal. Salah satunya adalah Ruger Aidal yang diperkenalkan sebagai Elder Dragon flagship dalam game.
Kehadiran konten baru tersebut membuat Monster Hunter Outlanders tidak sepenuhnya bergantung pada nostalgia terhadap seri sebelumnya. Pengembang mencoba membangun pengalaman yang tetap memiliki identitas Monster Hunter, tetapi sekaligus memberikan ruang bagi elemen baru.
Apakah Layak Ditunggu?
Dari materi preview yang tersedia, Monster Hunter Outlanders menawarkan kombinasi antara formula berburu khas seri tersebut dan sistem action RPG mobile modern.
Crafting, eksplorasi open world, multiplayer, Adventurer, Battle Pass, hingga mode kompetitif menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan. Pendekatan itu membuat game ini memiliki cakupan fitur yang cukup luas untuk sebuah judul mobile.
Bagi pemain lama, perubahan kontrol dan sistem permainan mungkin menjadi tantangan awal. Namun bagi pendatang baru, mekanisme yang lebih cepat dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal dunia Monster Hunter.
Saat ini, perhatian utama masih tertuju pada perkembangan Closed Beta Test dan pengumuman tanggal rilis resmi. Jika pengembang mampu mempertahankan kualitas gameplay sekaligus mengoptimalkan performanya di perangkat mobile, Monster Hunter Outlanders berpotensi menjadi salah satu judul action RPG mobile yang menarik untuk diperhatikan. (Wd/*)










