Kabarinaja.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terbaru. Mata uang rupiah mencatatkan penurunan tipis dan kini tertahan di atas psikologis baru yang cukup dalam.
Data pasar dari Investing menunjukkan mata uang rupiah melemah sebesar 0,48 persen. Koreksi ini membawa mata uang Indonesia bertengger di level Rp18.010,9 per dolar AS.
Kondisi tersebut tergolong unik karena terjadi ketika kekuatan eksternal dari sang greenback sebenarnya sedang mengendur. Indeks dolar AS (DXY) terpantau melorot tipis sebesar 0,08 persen ke posisi 99,425. Fenomena ini mengonfirmasi bahwa pergerakan dolar AS masih sangat fluktuatif terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Performa rupiah yang lesu ini sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan regional Asia yang bergerak variatif. Mayoritas mata uang negara tetangga justru berhasil memanfaatkan celah untuk menguat terhadap rupiah.
Yen Jepang, misalnya, sukses menguat 0,32 persen ke posisi Rp112,61. Langkah serupa di ikuti oleh dolar Singapura yang merangkak naik 0,22 persen menjadi Rp14.032,46, serta yuan China yang menguat tipis 0,12 persen ke level Rp2.657,73.
Tekanan bagi rupiah tidak berhenti di situ. Baht Thailand ikut menekan mata uang rupiah setelah menguat 0,29 persen ke level Rp550,462. Sementara itu, nilai tukar euro terhadap rupiah bergerak stagnan dan bertahan di posisi Rp20.872,0.
Beruntung, rupiah masih menunjukkan keunggulannya terhadap ringgit Malaysia. Mata uang Negeri Jiran tersebut justru melemah 0,19 persen dan berada di level Rp4.492,73 per rupiah.
Dinamika fluktuasi ini memperlihatkan bahwa pasar valuta asing domestik maupun regional masih tersandera oleh sentimen global. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral utama dunia menjadi pemicu utama. Kondisi ini diperparah oleh situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Para pelaku pasar saat ini memilih untuk bersikap waspada dan cenderung menahan diri. Mereka fokus mencermati rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat serta memantau sinyal kebijakan moneter The Federal Reserve yang terus mendikte arah pergerakan dolar AS. (Wd/*)









