Kabarinaja.id – Penggunaan kode Morse oleh anak-anak di platform game online Roblox mulai mendapat perhatian serius dari pengamat teknologi digital. Pasalnya pola komunikasi tersebut di nilai bukan sekadar tren iseng, tetapi bisa menjadi cara baru untuk menghindari sistem moderasi otomatis yang di terapkan platform.
Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menilai penggunaan sandi berbentuk titik dan garis itu membuka tantangan baru dalam pengawasan ruang digital anak. Menurutnya, metode seperti kode Morse berpotensi di pakai untuk menyamarkan percakapan tertentu agar tidak mudah di kenali sistem filter.
Ia menjelaskan, komunikasi tersembunyi semacam ini dapat menjadi berbahaya apabila mengarah pada aktivitas negatif, mulai dari ujaran kebencian hingga percakapan yang mengandung unsur pelecehan atau ajakan ilegal.
Celah Verifikasi Usia Di nilai Masih Lemah
Heru menyoroti masih lemahnya sistem verifikasi usia di banyak platform digital. Sebagian besar layanan online, termasuk game dan media sosial, di sebut hanya meminta pengguna memasukkan tanggal lahir tanpa proses validasi identitas yang ketat.
Kondisi tersebut membuat anak-anak relatif mudah mengakses fitur yang seharusnya di batasi bagi pengguna dewasa. Akibatnya, pengawasan terhadap pola komunikasi di ruang digital menjadi semakin rumit.
Menurut dia, penggunaan kode tertentu seperti Morse hanya salah satu contoh dari cara pengguna menghindari sensor otomatis platform. Ke depan, bentuk komunikasi serupa di perkirakan akan terus berkembang mengikuti celah moderasi yang ada.
Heru juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 16 ribu Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen di nilai memiliki tingkat risiko tinggi terhadap perlindungan anak di ruang digital.
Masalah ini di nilai tidak cukup di tangani hanya melalui aturan tertulis. Pengawasan aktif dari platform, orang tua, hingga regulator di sebut menjadi faktor penting agar aktivitas digital anak tetap aman.
Moderasi Kata Dinilai Tak Lagi Efektif
Praktisi media sosial Enda Nasution menilai munculnya penggunaan kode Morse sebenarnya bukan hal mengejutkan. Menurut dia, setiap pembatasan di internet hampir selalu memunculkan cara baru untuk mengakalinya.
Ia menyebut pola bypass seperti ini akan terus berubah. Jika kode Morse nantinya ikut di batasi, pengguna kemungkinan mencari metode lain agar percakapan mereka tetap lolos dari sistem moderasi.
Enda menilai pendekatan penyaringan berbasis daftar kata terlarang kini mulai kehilangan efektivitas. Platform digital di sebut perlu mengembangkan teknologi yang mampu membaca pola perilaku komunikasi, bukan hanya mendeteksi kata tertentu.
Dengan pendekatan tersebut, sistem moderasi bisa mengenali percakapan mencurigakan meski menggunakan simbol, bahasa asing, gambar, hingga sandi seperti kode Morse.
Menurut Enda, Roblox sebenarnya sudah mulai memperkuat perlindungan anak dalam beberapa tahun terakhir. Namun perkembangan pola komunikasi digital berjalan sangat cepat sehingga teknologi pengawasan juga harus terus di perbarui.
Viral di Media Sosial, Orang Tua Diminta Waspada
Isu penggunaan kode Morse di Roblox mulai ramai di bicarakan setelah sejumlah unggahan di Instagram memperlihatkan cara anak-anak berkomunikasi menggunakan kombinasi titik dan garis. Salah satu akun media sosial bahkan menyebut metode tersebut di pakai untuk menyamarkan pesan yang di batasi sistem moderasi otomatis game.
Fenomena ini kembali memunculkan kekhawatiran soal keamanan anak di internet. Pengamat menilai literasi digital keluarga menjadi hal penting agar orang tua tidak hanya mengawasi durasi bermain anak, tetapi juga memahami pola komunikasi yang di gunakan di dunia maya.
Perkembangan teknologi komunikasi di kalangan pengguna muda di sebut akan terus berubah. Karena itu, pengawasan digital kini tak cukup hanya mengandalkan filter otomatis, melainkan juga membutuhkan pendekatan edukasi, pemantauan perilaku, dan keterlibatan aktif dari lingkungan keluarga.
Hingga berita ini di tulis, pihak Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital belum memberikan tanggapan terkait fenomena tersebut.(Tim)







