Kabarinaja.id, Kerinci – Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh berhasil melewati pemadaman massal (blackout) yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Pulau Sumatera. Ketika provinsi lain mengalami kelumpuhan aktivitas akibat gangguan listrik, roda ekonomi, pelayanan publik, dan kehidupan sehari-hari masyarakat di kedua daerah ini tetap berjalan normal tanpa hambatan.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan besar di kalangan warga mengenai alasan di balik ketangguhan sistem kelistrikan Kerinci dan Sungai Penuh. Respons tanggap datang dari PT PLN (Persero) yang mengungkapkan bahwa kedua wilayah ini memiliki jalur distribusi dan sumber energi mandiri yang terpisah dari wilayah terdampak.
Manager PLN ULP Sungai Penuh, Eko Pitono, memaparkan bahwa pemadaman total di Sumatera di picu oleh kerusakan pada jaringan transmisi 275 kV yang menghubungkan Muara Bungo menuju Sungai Rumbai. Putusnya jalur interkoneksi tersebut otomatis menghentikan penyaluran energi dari mayoritas pembangkit listrik di Sumatera.
“Gangguan terjadi karena transmisi Muara Bungo–Sungai Rumbai terputus sehingga tidak seluruh pembangkit di Sumatera dapat menyalurkan energi listrik,” kata Eko.
Beruntung, kelistrikan Kerinci dan Sungai Penuh tidak bergantung pada sistem utama yang mengalami kerusakan tersebut. Pasokan listrik masyarakat setempat mengalir dari jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Bangko menuju Gardu Induk Koto Lolo hingga Sungai Liuk.
Keunggulan geografis dan infrastruktur ini diperkuat oleh operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PT Kerinci Merangin Hidro (KMH). Pasokan energi dari pembangkit lokal inilah yang menjadi tameng utama penjaga kestabilan daya di wilayah paling barat Provinsi Jambi tersebut.
Manager PLTA PT KMH, Aslori Ilham, menegaskan bahwa seluruh turbin pembangkit telah aktif menyuplai listrik ke sistem PLN sejak November 2025. Pembangkit ini mengandalkan empat unit turbin, yang mana setiap unit memiliki kapasitas produksi sebesar 87,4 megawatt (MW).
“Seluruh unit saat ini sudah beroperasi dan menyuplai energi listrik ke sistem PLN,” ujar Aslori.
Melalui pengoperasian penuh keempat turbin tersebut, PLTA KMH mampu memproduksi total daya mencapai 350 MW. Pasokan masif inilah yang di alirkan secara langsung menuju jaringan transmisi Bangko–Koto Lolo–Sungai Liuk untuk mengamankan kebutuhan warga.
Meskipun memiliki kapasitas besar, manajemen PLTA KMH tetap memberlakukan sistem fluktuasi produksi yang dinamis untuk menyesuaikan permintaan PLN. Penyaluran daya di tekan hingga kisaran 100 MW pada siang hari karena tingkat konsumsi masyarakat cenderung rendah. Sebaliknya, densitas pasokan akan di pacu mendekati kapasitas maksimal 350 MW saat memasuki masa beban puncak pada sore hingga malam hari.
Ketangguhan infrastruktur ini menempatkan posisi Kerinci dan Sungai Penuh berada dalam zona aman di tengah fluktuasi beban listrik regional. Aslori menambahkan, total daya dari PLTA KMH sebenarnya sudah melampaui kebutuhan domestik kedua wilayah tersebut. Surplus energi yang dihasilkan bahkan memiliki potensi besar untuk memperkuat dan menopang ketahanan listrik di wilayah Provinsi Jambi yang lebih luas.
Walau posisi pasokan terpantau aman terkendali, pihak PLN tetap mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di lapangan. Manajemen PLN membuka opsi skenario pengaturan beban jika sewaktu-waktu diperlukan demi menjaga keseimbangan dan memulihkan kestabilan sistem kelistrikan Sumatera secara kolektif.
Dampak nyata dari ketahanan energi ini memberikan keuntungan besar bagi masyarakat lokal. Keberadaan PLTA KMH dan jaringan SUTT Bangko–Koto Lolo–Sungai Liuk membuktikan bahwa diversifikasi energi dan kemandirian pembangkit daerah merupakan solusi mutlak dalam menghadapi ancaman krisis kelistrikan nasional. (Wd/*)









