Gelombang Panas Prancis Pecahkan Rekor 1947, 40 Orang Tewas

Kabarinaja.id

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gelombang Panas Prancis Pecahkan Rekor 1947, 40 Orang Tewas (Foto: SIMON WOHLFAHRT/AFP/liputan6)

Gelombang Panas Prancis Pecahkan Rekor 1947, 40 Orang Tewas (Foto: SIMON WOHLFAHRT/AFP/liputan6)

Kabarinaja.id – Sebanyak 40 orang tewas tenggelam di Prancis akibat nekat berenang di area tanpa pengawasan demi menghalau sengatan suhu ekstrem. Krisis lingkungan ini terjadi seiring gelombang panas Prancis dan sejumlah wilayah Eropa yang terus memburuk.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu menjelaskan bahwa mayoritas korban jiwa sejak Kamis lalu merupakan kelompok usia muda. Pihaknya mengonfirmasi status kedaruratan ini usai memimpin rapat krisis pada Selasa (23/6/2026).

“Mereka adalah korban pertama dari krisis yang sedang kita hadapi,” ujar Lecornu seperti di kutip Al Jazeera.

Lecornu menambahkan bahwa rangkaian kematian ini menjadi tragedi memilukan bagi negara. Berdasarkan data badan prakiraan cuaca Meteo-France, suhu udara di wilayah barat daya Prancis, tepatnya di Les Herbiers, menembus angka 43 derajat Celsius pada Selasa.

Merespons situasi ini, Menteri Olahraga Marina Ferrari memperingatkan warga melalui siaran radio France Inter. Dia menegaskan bahwa aktivitas berenang di lokasi terlarang selama cuaca ekstrem bukan perkara sepele yang bisa di abaikan.

Dampak mematikan cuaca panas ini juga menyasar kelompok rentan lainnya. Otoritas setempat melaporkan dua anak balita berusia dua dan empat tahun meninggal dunia setelah di temukan tidak sadarkan diri di dalam mobil di Carpentras. Sementara di Bordeaux, tiga lansia berusia 80 hingga 95 tahun mengembuskan napas terakhir akibat komplikasi kesehatan yang di picu oleh hawa panas.

Baca Juga :  Grab Bantah Rumor Keluar dari Indonesia, Tegaskan Komitmen

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) turut mengeluarkan peringatan serius mengenai ancaman kesehatan di seluruh benua. Pejabat senior kebijakan iklim IFRC, Mary Friel, menegaskan dalam konferensi pers di Jenewa bahwa kondisi ini dapat berujung pada taruhan nyawa jika masyarakat abai melakukan mitigasi.

Hari Terpanas Sejak 1947

Meteo-France mengonfirmasi bahwa hari Selasa kemarin menjadi momen paling panas di Prancis sejak sistem pencatatan meteorologi pertama kali dimulai pada 1947. Indikator suhu nasional rata-rata siang dan malam dari 30 stasiun pengamatan mencatat angka 29,8 derajat Celsius.

Kondisi tersebut memicu penetapan status siaga merah di 54 wilayah. Lantaran mayoritas bangunan di Prancis tidak di lengkapi perangkat pendingin ruangan (AC), banyak sekolah memilih memulangkan siswa lebih awal demi menjaga keselamatan mereka.

Sektor pariwisata pun ikut terdampak secara langsung. Manajemen Museum Louvre di Paris memajukan jam tutup operasional menjadi pukul 16.00 waktu setempat mulai Rabu hingga Sabtu. Langkah serupa di ambil oleh pengelola Menara Eiffel yang menutup akses kunjungan lebih cepat pada Selasa sore.

Baca Juga :  Penuh Plot Twist, Ini 3 Drama Korea Kerajaan Terbaik 2026 yang Wajib Ditonton

Meteo-France memprediksi suhu tinggi masih bertahan hingga Kamis. Penurunan suhu secara bertahap di perkirakan baru akan di mulai pada Jumat dari arah pesisir Atlantik.

Dampak Sistemik di Kawasan Eropa

Inggris juga menghadapi lonjakan suhu yang signifikan. Kantor Meteorologi Inggris (Met Office) memproyeksikan suhu mampu melampaui 39 derajat Celsius di beberapa wilayah, memecahkan rekor bulan Juni tahun 1957 dan 1976. Puluhan sekolah di Inggris langsung mengambil kebijakan tutup lebih awal selama tiga hari berturut-turut.

Spanyol utara yang biasanya beriklim sejuk, seperti Kota San Sebastian, justru bersiap menghadapi lonjakan suhu hingga 40 derajat Celsius. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata historis wilayah tersebut berdasarkan laporan Reuters Climate Monitor. Di Italia, Kementerian Kesehatan merilis peringatan tingkat tertinggi untuk 15 kota besar sekaligus membatasi aktivitas kerja lapangan.

Suhu ekstrem yang melanda Eropa saat ini dipicu oleh fenomena meteorologi bernama Omega block. Pola cuaca yang menyerupai huruf Yunani Omega ini mengunci massa udara panas dari Gurun Sahara di atas daratan Eropa tanpa adanya embusan angin yang signifikan. Peneliti iklim dari Imperial College London, Clair Barnes, menyatakan bahwa intensitas bencana ini diperparah oleh dampak perubahan iklim global. (Wd/*)

Berita Terkait

Gaya Modis Zendaya & Tom Holland di Press Tour Spider-Man 4
Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2026 di Tiga Negara
Hobi Filantropi Satukan Bill Gates dan Paula Hurd
Taylor Swift Puji Paul McCartney, Ungkap Inspirasi Sepanjang Karier
Sambut Piala Dunia 2026, Mural Ikonik Hiasi Jalanan Meksiko
Daftar Negara Juara Piala Dunia Terbanyak Sepanjang Masa
NASA Uji Pesawat Supersonik X-59 Tanpa Sonic Boom
Investasi Prancis Rp62,5 Triliun Masuk ke Indonesia
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:07 WIB

Gelombang Panas Prancis Pecahkan Rekor 1947, 40 Orang Tewas

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:08 WIB

Gaya Modis Zendaya & Tom Holland di Press Tour Spider-Man 4

Kamis, 11 Juni 2026 - 17:23 WIB

Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2026 di Tiga Negara

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:04 WIB

Hobi Filantropi Satukan Bill Gates dan Paula Hurd

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:07 WIB

Taylor Swift Puji Paul McCartney, Ungkap Inspirasi Sepanjang Karier

Berita Terbaru

Gelombang Panas Prancis Pecahkan Rekor 1947, 40 Orang Tewas (Foto: SIMON WOHLFAHRT/AFP/liputan6)

Internasional

Gelombang Panas Prancis Pecahkan Rekor 1947, 40 Orang Tewas

Rabu, 24 Jun 2026 - 13:07 WIB

Lee Joon-gi Pertimbangkan Jadi Antagonis di Film Dochabi (Foto: Instagram/actor_jg/medcom)

Showbiz

Lee Joon-gi Pertimbangkan Jadi Antagonis di Film Dochabi

Rabu, 24 Jun 2026 - 12:07 WIB