Kabarinaja.id – Kementerian Pertanian bergerak cepat mengamankan pasokan bawang merah nasional menjelang perayaan Idul Adha. Pemantauan intensif di berbagai wilayah penyangga seperti Brebes, Solok, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, hingga Probolinggo menunjukkan grafik produksi yang tetap terkendali. Langkah antisipasi ini di ambil untuk meredam kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan harga pangan di hari besar keagamaan.
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule, menegaskan kapasitas produksi domestik saat ini masih berada di atas angka kebutuhan masyarakat.
Neraca Pasokan Bawang Merah Nasional
| Indikator Kebutuhan | Jumlah (Per Tahun) |
| Produksi Konde Basah | ~2 Juta Ton |
| Setara Rogol Kering Panen | 1,3 Juta Ton |
| Konsumsi Nasional | 1,26 Juta Ton |
“Ketersediaan di dalam negeri sangat mencukupi, bahkan kita masih aktif melakukan ekspor. Menghadapi momentum Idul Adha, kolaborasi dengan para petani champion, pemerintah daerah, serta asosiasi di perkuat demi menjaga kelancaran distribusi,” ujar Ratule, Minggu (23/5).
Tantangan Iklim dan Upaya Pengamanan Lapangan
Faktor cuaca ekstrem sepanjang Maret hingga Mei memicu kemunculan organisme pengganggu tanaman, khususnya hama ulat grayak dan penyakit moler. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Muhammad Agung Sunusi, mengakui fenomena ini sempat mengoreksi tingkat produktivitas di beberapa titik. Namun, jalur distribusi dari basis produksi utama seperti Pati, Temanggung, Nganjuk, Enrekang, Brebes, dan Garut dipastikan tidak terganggu.
Kementan memproyeksikan lonjakan volume panen akan terjadi pada Juni 2026 mendatang. Di tingkat tapak, para petani andalan terus menjaga ritme pasokan ke berbagai pulau. Kasmidi, petani champion dari Enrekang, rutin mengirimkan pasokan ke wilayah Kalimantan sebanyak tiga kali dalam seminggu. Pada saat yang sama, Amri Ismail dari Solok bersiap menghadapi panen raya pertengahan Juni untuk mengamankan kebutuhan wilayah Sumatra.
Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, mengonfirmasi ketersediaan barang di pasar hingga akhir Mei ini masih terjaga. Meskipun cuaca ekstrem sempat memangkas hasil panen di beberapa daerah hingga 30–40 persen, pasokan total di nilai tidak akan lumpuh.
Masyarakat perlu mengantisipasi fluktuasi harga yang di prediksi bertahan di atas harga acuan akibat lonjakan permintaan musiman. Kondisi ini di perkirakan kembali mereda dan stabil begitu panen raya di seluruh sentra produksi berjalan serentak. Pembaca di sarankan untuk melakukan pembelian secara bijak sesuai kebutuhan guna membantu menjaga stabilitas harga di pasar ritel. (Wd/*)









