Kabarinaja.id – Gelombang kritik tajam menerpa serial Perfect Crown. Dua pemeran utamanya, Byeon Woo Seok dan IU, kini resmi menyampaikan permohonan maaf terbuka menyusul ramainya sorotan atas dugaan distorsi sejarah dalam proyek tersebut. Publik menilai detail visual dan dialog yang di sajikan mencederai nilai sejarah bangsa.
Akar permasalahan bermula dari visualisasi momen penobatan Pangeran Ian (Byeon Woo Seok). Penonton menyoroti seruan “Cheonse” (seribu tahun) oleh figur rakyat dalam adegan tersebut. Istilah ini di nilai keliru karena merujuk pada status negara bawahan. Komunitas pencinta sejarah menegaskan bahwa frasa yang tepat adalah “Manse” (sepuluh ribu tahun), sebuah simbol kedaulatan negara merdeka.
Akurasi properti syuting ikut memicu perdebatan. Karakter raja terlihat mengenakan mahkota guryumyeonryugwan yang sangat lekat dengan atribusi Kekaisaran Tiongkok. Padahal, untuk merepresentasikan penguasa dari wilayah independen, produksi seharusnya menggunakan shipimyeonryugwan atau mahkota dengan 12 untaian.
Adu argumen di media sosial membuat sang aktor utama angkat bicara. Melalui pernyataan tertulis pada 18 Mei, Byeon Woo Seok mengungkapkan penyesalannya. Ia menyadari ada kelalaian dalam memahami esensi historis selama proses produksi berjalan.
“Melalui momentum ini, saya berefleksi. Tanggung jawab seorang aktor rupanya melampaui kualitas akting di depan kamera, melainkan juga mencakup pesan serta bobot konteks dari karya yang di bawakan,” tulis Byeon Woo Seok lewat akun media sosial pribadinya.
Ia menutup pernyataannya dengan komitmen untuk lebih selektif dan sensitif terhadap latar belakang cerita pada proyek-proyek masa depan.
Langkah serupa diambil oleh IU. Pemeran tokoh Seong Hui Ju ini mengaku memantau langsung kritik yang berkembang di masyarakat. Ia memandang situasi ini sebagai alarm bagi profesionalismenya di industri hiburan.
IU membeberkan bahwa Perfect Crown sejatinya di rancang sebagai peleburan antara imajinasi kreatif dan warisan budaya Korea. Formula ini menuntut tingkat ketelitian yang tinggi. Ia menyesal tidak melakukan riset mandiri yang lebih mendalam sebelum menerima peran tersebut.
“Saya seharusnya membedah naskah dengan tingkat kecermatan yang lebih tinggi dan memperluas wawasan sejarah. Fakta bahwa saya melewatkan hal itu memicu rasa malu pada diri sendiri,” ungkap IU.
Sikap kritis penonton drama Korea saat ini menunjukkan bahwa aspek edukasi dalam industri hiburan tidak bisa diabaikan. Bagi penikmat layar kaca, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk tetap memfilter tayangan berbasis sejarah dengan rujukan literatur yang valid. Kesadaran kolektif seperti ini memaksa rumah produksi global untuk tidak lagi main-main dengan akurasi riset kebudayaan. (Wd/*)









