Sisi Gelap Subathon, Fenomena Streaming Tanpa Jeda yang Menguras Fisik dan Dompet

pavicon

- Jurnalis

Rabu, 27 Mei 2026 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sisi Gelap Subathon, Fenomena Streaming Tanpa Jeda yang Menguras Fisik dan Dompet (Foto: Ai)

Sisi Gelap Subathon, Fenomena Streaming Tanpa Jeda yang Menguras Fisik dan Dompet (Foto: Ai)

Kabarinaja.id – Menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan kreator konten favorit di YouTube atau Twitch kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital. Mulai dari menemani waktu makan siang hingga menjadi pengantar tidur, tayangan live streaming berformat subathon sukses menyita perhatian jutaan pasang mata. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: apa yang membuat format siaran berdurasi ekstrem ini begitu adiktif, dan apa dampak nyata di balik layarnya?

Membedah Formula Subscription Marathon

Subathon merupakan akronim dari subscription (langganan) dan marathon. Konsepnya sederhana namun menjebak: sebuah siaran langsung yang durasinya terus bertambah setiap kali ada penonton yang memberikan dukungan finansial. Dukungan ini bisa berupa langganan berbayar (subscribe), donasi uang tunai, hingga pengiriman hadiah digital (gift).

Kreator biasanya menerapkan sistem akumulasi waktu yang spesifik, misalnya:

  • 1 subscription baru menambahkan durasi siaran selama 30 detik.

  • Gift sub menambahkan waktu 1 menit.

  • Donasi senilai Rp10.000 memperpanjang siaran selama 20 detik.

Sistem kontrol dinamis ini memberikan kuasa penuh kepada audiens untuk menentukan kapan siaran harus berakhir. Dampaknya, sebuah siaran yang awalnya di jadwalkan selesai dalam hitungan jam bisa membengkak menjadi berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Format ini mulai meledak secara global setelah Ludwig Ahgren melakukan aksi legendaris pada 14 Maret hingga 13 April 2021. Siaran nonstop selama 31 hari tersebut sukses memecahkan rekor dunia sebagai pemilik pelanggan aktif terbanyak di Twitch pada masanya. Tren ini kemudian di adopsi massal lintas platform seperti YouTube, TikTok Live, hingga Kick, dengan variasi konten mulai dari tantangan gaming, penggalangan dana, hingga siaran realitas (In Real Life/IRL).

[Dukungan Penonton: Subs/Donasi] ──> [Timer Bertambah] ──> [Durasi Siaran Membengkak]

Peta Kompetisi Subathon di Indonesia

Tren global ini di respons cepat oleh ekosistem kreator digital tanah air sejak 2021. Berdasarkan catatan media, streamer Tierison (Jot) menjadi salah satu pionir yang menyelesaikan maraton siaran selama 198 jam 37 menit 5 detik pada Juni 2021. Langkah ini di susul oleh Edho Zell pada Juli tahun yang sama melalui tantangan serupa di platform YouTube.

Dalam perkembangannya, muncul dua nama yang mencatatkan rekor paling ekstrem di Indonesia:

Nama Kreator Durasi / Capaian Karakteristik Konten
Rusman Selesai di hari ke-412 Streamer Dota 2 dengan ketahanan fisik luar biasa; estimasi pendapatan harian mencapai Rp5–10 juta dari donasi.
Reza Arap (MARAPTHON) Season 3 mencapai 101–102 hari (2026) Mengubah konsep siaran menjadi interactive reality show berskala besar yang ditutup di Istora Senayan.
Baca Juga :  6 Drama Korea Terbaru Mei 2026, Jadwal Tayang, Sinopsis, dan Link Nonton

MARAPTHON Season 3 berhasil menyabet dua rekor Guinness World Records, salah satunya melalui siaran ulang tahun langsung di YouTube yang meraup 238.039 penonton serentak. Kesuksesan ini membuktikan bahwa penonton modern tidak lagi sekadar mencari konten pasif, melainkan ruang komunal digital tempat mereka bisa memengaruhi narasi tontonan secara real-time.

Perputaran Uang dan Rekor Donasi Fantastis

Daya tarik ekonomi dari ekosistem ini sangat masif. Keterlibatan emosional penonton sering kali berbanding lurus dengan nilai transaksi yang terjadi selama siaran berlangsung.

  • Skala Global (Charity): Pada April 2026, kreator asal Polandia, Łatwogang, mengumpulkan donasi kemanusiaan sebesar 250 juta zloty (sekitar US$69 juta) hanya dalam siaran 9 hari untuk yayasan kanker anak. Sementara itu, rekor resmi Guinness untuk penggalangan dana terbesar masih dipegang oleh Z Event 2025 dengan angka mencapai US$19,458,634.71 (setara Rp344,71 miliar).

  • Skala Komersial: Kreator Twitch, Kai Cenat, lewat program Mafiathon 3 pada September 2025 menjadi kreator pertama yang menembus 1 juta pelanggan aktif bulanan, di mana sebagian pendapatannya di alokasikan untuk pembangunan sekolah di Nigeria.

  • Skala Lokal: Windah Basudara bersama JAYA Esports membuktikan kekuatan komunitas Indonesia dengan mengumpulkan dana sosial sebesar Rp1,3 miliar hanya dalam waktu kurang dari 6 jam pada Mei 2023.

Mengapa Kita Betah Menonton Orang Lain Tidur?

Kritik yang sering di lontarkan oleh masyarakat awam adalah keheranan mengapa ada orang yang rela menghabiskan waktu menyaksikan aktivitas domestik kreator, termasuk saat mereka sedang tidur. Jawabannya terletak pada fungsi psikologis siaran langsung sebagai “teman nongkrong digital”.

Riset yang di publikasikan oleh Hilvert-Bruce dkk. terhadap 2.227 pengguna Twitch mengonfirmasi bahwa motivasi utama penonton bukan semata-mata konten khalayak, melainkan pemenuhan kebutuhan sosial, rasa kepemilikan komunitas, dan pengalaman kolektif. Penonton memanfaatkan karakteristik siaran langsung yang dinamis sebagai hiburan latar belakang (background entertainment) saat bekerja, makan, atau beristirahat demi melepaskan ketegangan emosional.

Catatan Ilmiah mengenai Kesepian:

Penelitian dari Harvard Business School dan studi Kaveladze dkk. dalam jurnal Frontiers in Digital Health menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam video langsung terbukti mampu mereduksi indikator psikososial terkait kesepian secara instan. Namun, efek positif ini bersifat temporer dan tidak mampu menurunkan tingkat kesepian kronis (trait loneliness) dalam jangka panjang (pantauan setelah 4 minggu).

Sisi Gelap: Eksploitasi Fisik dan Hubungan Parasosial yang Ekstrem

Di balik perputaran uang yang menggiurkan, industri ini menuntut stabilitas performa yang brutal. Kreator di paksa untuk selalu responsif, menghibur, dan mengabaikan privasi demi menjaga algoritma tetap stabil. Batas antara ruang personal dan pekerjaan menjadi sepenuhnya bias.

Baca Juga :  MacBook Neo Resmi Hadir di Indonesia, Varian Termurah Rp 10,7 Juta

1. Kehancuran Mental Kreator

Tragedi kepergian Byron “Reckful” Bernstein pada Juli 2020 menjadi alarm keras bagi komunitas global mengenai toksisitas ruang obrolan digital (chat room) dan beratnya tekanan mental yang di hadapi seorang streamer. Kasus Emilycc pada tahun 2025, yang di sorot oleh Washington Post, juga memperlihatkan bagaimana siaran nonstop selama lebih dari tiga tahun memicu kelelahan ekstrem (burnout), rasa terasing, dan tekanan identitas yang merusak kesejahteraan psikis.

2. Kerugian Finansial Akibat Obsesi Parasosial

Hubungan parasosial kondisi di mana penonton merasa memiliki ikatan pertemanan satu arah yang intim dengan kreator sering kali berujung pada tindakan irasional. South China Morning Post melaporkan kasus ekstrem di China pada November 2025, di mana seorang pria menghabiskan 4 juta yuan (Rp10,4 miliar) demi mendapatkan perhatian dari seorang pembuat konten. Pada bulan yang sama, kasus perceraian muncul akibat seorang istri menguras tabungan keluarga senilai US$163.000 (Rp2,8 miliar) untuk berdonasi kepada streamer pria.

3. Ancaman Keamanan di Dunia Nyata

Keterbukaan informasi yang terjadi selama siaran langsung berbasis realitas (IRL) memperbesar risiko keamanan bagi kreator. Pada tahun 2025, kreator FaZe Lacy mengalami insiden penguntitan secara langsung di depan kamera oleh seorang penonton yang mendatangi lingkungan tempat tinggalnya dengan membawa koper. Hal ini membuktikan bahwa hilangnya sekat privasi digital dapat bertransformasi menjadi ancaman fisik yang nyata.

Panduan Bijak Menikmati Tayangan

Format subathon tidak sepenuhnya buruk; platform ini terbukti efektif dalam membangun modal sosial, menggalang dana kemanusiaan, dan menggerakkan roda ekonomi kreator digital. Kendati demikian, pola konsumsi yang tidak terkontrol dapat merugikan kedua belah pihak.

Sebagai penonton, penting untuk menyadari batasan diri. Menjadikan siaran langsung sebagai media hiburan pelepas stres adalah hal yang wajar. Namun, jika aktivitas ini mulai menggeser prioritas hidup, merusak pola tidur, menggangu produktivitas, atau menjadi pelarian utama dari interaksi sosial nyata, itu merupakan indikator kuat bahwa Anda membutuhkan jeda dari dunia digital. Gunakan teknologi ini sebagai jembatan untuk terhubung, bukan sebagai tembok pembatas dari realitas. (Wd/*)

Berita Terkait

7 Drama China Romantis dengan Hubungan Dewasa dan Green Flag Terbaik
Teaser Drama China The Road To Glory Rilis, Duet Epik Zhang Linghe dan Lin Yun Hadapi Konflik Kerajaan Sengit
Bosan Burnout? Ini 3 Rekomendasi Drakor Healing yang Bikin Penasaran Mau Solo Traveling
Tencent dan Krafton Suntik Rp1,4 Triliun ke The Black Label, Siap Dominasi Pasar Hiburan Global
7 Drama China Pemecah Rekor Views Tertinggi yang Wajib Masuk Watchlist
10 Wanita Tercantik Korea Selatan Versi Factual Index, Ikon Gaya dan Pengaruh Global
8 Rekomendasi Drama Korea Bertema Perjuangan Idol yang Buka Mata Penonton
Sentil Gatekeeper, Logan Paul Buka Suara Usai Diamuk Fans Anime Akibat Borong Manga Rp8,9 Miliar
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:06 WIB

7 Drama China Romantis dengan Hubungan Dewasa dan Green Flag Terbaik

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:09 WIB

Teaser Drama China The Road To Glory Rilis, Duet Epik Zhang Linghe dan Lin Yun Hadapi Konflik Kerajaan Sengit

Rabu, 27 Mei 2026 - 12:06 WIB

Tencent dan Krafton Suntik Rp1,4 Triliun ke The Black Label, Siap Dominasi Pasar Hiburan Global

Rabu, 27 Mei 2026 - 10:05 WIB

Sisi Gelap Subathon, Fenomena Streaming Tanpa Jeda yang Menguras Fisik dan Dompet

Senin, 25 Mei 2026 - 20:04 WIB

7 Drama China Pemecah Rekor Views Tertinggi yang Wajib Masuk Watchlist

Berita Terbaru