Waspada Hantavirus, Gejala Mirip Flu yang Mengancam Nyawa dan Cara Mencegahnya

Ancaman Hantavirus, Saat Gejala Remeh Berujung Fatal

Kabarinaja.id

- Jurnalis

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Waspada Hantavirus, Gejala Mirip Flu yang Mengancam Nyawa dan Cara Mencegahnya  (Dok. Envato/bloombergtechnoz)

Ilustrasi. Waspada Hantavirus, Gejala Mirip Flu yang Mengancam Nyawa dan Cara Mencegahnya (Dok. Envato/bloombergtechnoz)

Kabarinaja.id – Kematian mendadak penumpang kapal pesiar MV Hondius memicu alarm kewaspadaan medis global. Seorang pria warga negara Belanda berusia 70 tahun di laporkan meninggal dunia pada 11 April setelah mengalami demam tinggi dan gangguan pencernaan akut. Rentetan kejadian ini berlanjut dengan isolasi dua penumpang lain di Singapura yang memiliki riwayat perjalanan serupa dari St Helena menuju Johannesburg.

Kasus tersebut mempertegas bahwa hantavirus bukan sekadar isu kesehatan lokal di Amerika, melainkan ancaman nyata bagi siapa saja yang berinteraksi dengan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat.

Mekanisme Infeksi dan Media Penularan

Hantavirus merupakan patogen yang menetap pada tikus liar, seperti tikus rusa, tikus padi, dan tikus kaki putih. Manusia terinfeksi bukan melalui kontak antar-manusia secara umum, melainkan melalui residu biologis hewan tersebut. Partikel virus menyebar saat seseorang menghirup udara yang tercemar serpihan kotoran, urine, atau sarang tikus yang mengering.

Paparan juga berisiko tinggi terjadi melalui:

  • Konsumsi makanan yang telah tercemar air liur atau kotoran tikus.

  • Kontak tangan pada benda yang terkontaminasi, lalu menyentuh wajah sebelum mencuci tangan.

  • Luka terbuka akibat gigitan atau cakaran langsung dari tikus pembawa virus.

Baca Juga :  Baksos Layanan Kesehatan Antara RS Theresia dan Klinik Pratama Asisi

Meskipun varian Andes virus di Amerika Selatan tercatat bisa menular antar-manusia, mayoritas kasus hantavirus di belahan dunia lain murni berasal dari lingkungan yang tidak higienis.

Gejala yang Sering Mengecoh

Bahaya utama penyakit ini terletak pada masa inkubasi dan gejalanya yang menyerupai flu biasa. Pasien umumnya baru merasakan keluhan sekitar dua hingga tiga minggu pasca-paparan.

Gejala awal meliputi:

  1. Menggigil dan demam yang muncul mendadak.

  2. Nyeri otot yang intens disertai sakit kepala hebat.

  3. Gangguan pencernaan berupa mual, muntah, serta diare.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bertransisi menjadi fase kritis. Paru-paru akan terisi cairan yang memicu sesak napas berat, tekanan darah anjlok, hingga irama jantung yang tidak stabil.

Baca Juga :  Gadget Picu Virtual Autism pada Anak, IDAI Minta Orang Tua Waspada

Tindakan Medis dan Penanganan Terpadu

Hingga saat ini, protokol medis dunia belum memiliki obat spesifik atau vaksin untuk mematikan infeksi hantavirus secara langsung. Fokus utama pengobatan adalah dukungan fungsi tubuh agar pasien mampu melewati masa kritis.

Bagi pengidap Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), bantuan oksigen melalui prosedur intubasi sering kali menjadi satu-satunya cara untuk menyuplai oksigen ke paru-paru yang terendam cairan. Pada beberapa kasus, virus ini menyerang fungsi ginjal sehingga pasien memerlukan dialisis atau cuci darah untuk menyaring racun dalam tubuh.

Kecepatan diagnosa adalah kunci. Segera kunjungi fasilitas kesehatan jika Anda mengalami demam dan sesak napas setelah beraktivitas di area yang banyak di huni tikus, seperti gudang lama atau ruang bawah tanah. Proteksi mandiri dimulai dari penggunaan masker saat membersihkan area berdebu dan memastikan seluruh akses masuk tikus di hunian tertutup rapat. (Nd/*)

Berita Terkait

Menyikat Gigi Sebelum Tidur Kurangi Risiko Biaya Medis
10 Tanda Seseorang Belum Matang Secara Emosional
Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Steril di Amerika Serikat
Gadget Picu Virtual Autism pada Anak, IDAI Minta Orang Tua Waspada
ACERUN 2026 Hadirkan Rute Baru 7K dan Teknologi AI
3 Kebiasaan Pagi untuk Menjaga Kesehatan Jantung
Deteksi Kanker Lebih Akurat, Teknologi SPECT/CT Kini Hadir di Indonesia
Makanan Pemicu Kerusakan Ginjal yang Sering Dikonsumsi Setiap Hari
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:03 WIB

Menyikat Gigi Sebelum Tidur Kurangi Risiko Biaya Medis

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:48 WIB

10 Tanda Seseorang Belum Matang Secara Emosional

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:17 WIB

Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Steril di Amerika Serikat

Senin, 15 Juni 2026 - 08:05 WIB

Gadget Picu Virtual Autism pada Anak, IDAI Minta Orang Tua Waspada

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:03 WIB

ACERUN 2026 Hadirkan Rute Baru 7K dan Teknologi AI

Berita Terbaru

4 Mobil Bekas Sporty Harga Rp30 Jutaan yang Layak Dikoleksi (Foto: Ai)

Otomotif

4 Mobil Bekas Sporty Harga Rp30 Jutaan yang Layak Dikoleksi

Jumat, 26 Jun 2026 - 06:22 WIB

Kinerja Pertamina 2025, Pendapatan Tembus Rp1.167 Triliun (Foto: Pertamina)

Ekonomi

Kinerja Pertamina 2025, Pendapatan Tembus Rp1.167 Triliun

Kamis, 25 Jun 2026 - 11:29 WIB