Kabarinaja.id – Kematian mendadak penumpang kapal pesiar MV Hondius memicu alarm kewaspadaan medis global. Seorang pria warga negara Belanda berusia 70 tahun di laporkan meninggal dunia pada 11 April setelah mengalami demam tinggi dan gangguan pencernaan akut. Rentetan kejadian ini berlanjut dengan isolasi dua penumpang lain di Singapura yang memiliki riwayat perjalanan serupa dari St Helena menuju Johannesburg.
Kasus tersebut mempertegas bahwa hantavirus bukan sekadar isu kesehatan lokal di Amerika, melainkan ancaman nyata bagi siapa saja yang berinteraksi dengan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat.
Mekanisme Infeksi dan Media Penularan
Hantavirus merupakan patogen yang menetap pada tikus liar, seperti tikus rusa, tikus padi, dan tikus kaki putih. Manusia terinfeksi bukan melalui kontak antar-manusia secara umum, melainkan melalui residu biologis hewan tersebut. Partikel virus menyebar saat seseorang menghirup udara yang tercemar serpihan kotoran, urine, atau sarang tikus yang mengering.
Paparan juga berisiko tinggi terjadi melalui:
-
Konsumsi makanan yang telah tercemar air liur atau kotoran tikus.
-
Kontak tangan pada benda yang terkontaminasi, lalu menyentuh wajah sebelum mencuci tangan.
-
Luka terbuka akibat gigitan atau cakaran langsung dari tikus pembawa virus.
Meskipun varian Andes virus di Amerika Selatan tercatat bisa menular antar-manusia, mayoritas kasus hantavirus di belahan dunia lain murni berasal dari lingkungan yang tidak higienis.
Gejala yang Sering Mengecoh
Bahaya utama penyakit ini terletak pada masa inkubasi dan gejalanya yang menyerupai flu biasa. Pasien umumnya baru merasakan keluhan sekitar dua hingga tiga minggu pasca-paparan.
Gejala awal meliputi:
-
Menggigil dan demam yang muncul mendadak.
-
Nyeri otot yang intens disertai sakit kepala hebat.
-
Gangguan pencernaan berupa mual, muntah, serta diare.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bertransisi menjadi fase kritis. Paru-paru akan terisi cairan yang memicu sesak napas berat, tekanan darah anjlok, hingga irama jantung yang tidak stabil.
Tindakan Medis dan Penanganan Terpadu
Hingga saat ini, protokol medis dunia belum memiliki obat spesifik atau vaksin untuk mematikan infeksi hantavirus secara langsung. Fokus utama pengobatan adalah dukungan fungsi tubuh agar pasien mampu melewati masa kritis.
Bagi pengidap Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), bantuan oksigen melalui prosedur intubasi sering kali menjadi satu-satunya cara untuk menyuplai oksigen ke paru-paru yang terendam cairan. Pada beberapa kasus, virus ini menyerang fungsi ginjal sehingga pasien memerlukan dialisis atau cuci darah untuk menyaring racun dalam tubuh.
Kecepatan diagnosa adalah kunci. Segera kunjungi fasilitas kesehatan jika Anda mengalami demam dan sesak napas setelah beraktivitas di area yang banyak di huni tikus, seperti gudang lama atau ruang bawah tanah. Proteksi mandiri dimulai dari penggunaan masker saat membersihkan area berdebu dan memastikan seluruh akses masuk tikus di hunian tertutup rapat. (Nd/*)







